STPN

Skripsi, Tesis, Disertasi, Hasil Penelitian
PERSERTIFIKATAN TANAH MELALUI PERKREDITAN BANK BPD JAWA TIMURdownloads: 248 | type: pdf | size: 290 kB

Penulis: Seto Apriyadi

Skripsi

Jurusan: Perpetaan

Tahun 2007

Intisari

Penyelenggaraan pendaftaran tanah di Indonesia saat ini sangat terkait dengan biaya dalam pengumpulan serta pengolahan data fisik dan data yuridis. Biaya pendaftaran tanah diharapkan dapat dijangkau bagi pihak-pihak yang memerlukan, khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. Subsidi dalam pendaftaran tanah yang dilakukan oleh pemerintah agar biaya penyelenggaraan pendaftaran tanah terjangkau oleh masyarakat belum terlaksana. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya anggaran keuangan yang dimiliki pemerintah. Untuk itu, pemerintah membatasi kegiatan pendaftaran tanah secara sistematik. Untuk mengatasi kendala tersebut Kantor Pertanahan Kabupaten Mojokerto melaksanakan pensertipikatan tanah secara massal swadaya dan bekerjasama dengan BPD Jatim Kantor Cabang Mojokerto dalam pembiayaan pensertipikatan tanahnya.

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini mencakup tiga permasalahan. Pertama, apakah biaya pensertipikatan tanah secara kredit tersebut telah sesuai dengan PP 46 Tahun 2002 ? Kedua, dalam pelaksanaan pensertipikatan tanah melalui kredit tersebut apakah proses pelaksanaan pensertipikatan tanah massal swadaya melalui perkreditan BPD Jatim telah sesuai dengan PMNA/KBPN 3 Tahun 1997 ? Ketiga, apakah manfaat dan kerugian yang akan diperoleh masyarakat peserta pensertipikatan tanah secara kredit tersebut?

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode ini digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan langsung dengan penelitian. Model pendekatan kualitatif dilakukan terhadap suatu masalah yang spesifik dan berkembang pada saat proses berlangsungnya penelitian tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa (1) Pembiayaan dalam pensertipikatan massal swadaya melalui perkreditan BPD Jatim berdasarkan Surat Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi Jawa Timur Nomor 570.35-8646 tidak sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2002, (2) pelaksanaan proses pensertipikatan tanah massal swadaya melalui kerjasama dengan Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur di Kantor Pertanahan Kabupaten Mojokerto tidak seluruhnya sesuai dengan PMNA / KBPN Nomor 3 Tahun 199, dan (3) manfaat bagi masyarakat antara lain adalah biaya pensertipikatan tersebut murah, proses pendaftaran tanahnya mudah, dan waktu pensertipikatan tanahnya cepat, sedangkan kerugiannya tidak dirasakan oleh masyarakat peserta.

PROGRAM APLIKASI BASIS DATA GAMBAR UKUR DI KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KLATENdownloads: 541 | type: pdf | size: 3 MB

Penulis: Ridho G. Ali

Skripsi

Jurusan Perpetaan

Tahun 2007

Intisari

Pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah tentunya akan selalu berkaitan dengan gambar ukur, baik pendaftaran tanah pertama kali maupun kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah yang membutuhkan arsip gambar ukur. Gambar ukur merupakan dokumen penting yang dapat digunakan untuk merekonstruksi batas bidang tanah yang hilang, juga sebagai acuan jika terjadi pemecahan, pemisahan, atau penggabungan terhadap bidang tanah. Gambar ukur dapat dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan jika pada suatu saat terjadi perkara terhadap bidang tanah, maka pengelolaannya harus benar-benar baik. Pada saat ini pengelolaan arsip gambar ukur di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten masih dilakukan secara manual sehingga pengelolaannya masih mempunyai kelemahan terutama dalam hal penyimpanan dan pencaian arsip gambar ukur. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana penunjang data base yang dapat membantu proses kerja pengelolaan arsip gambar ukur. Pengelolaan arsip gambar ukur tersebut dilakukan dengan bantuan program aplikasi basis data yang dibuat dengan gabungan microsoft access dan visual basic.

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan program aplikasi basis data gambar ukur, juga untuk mengetahui kecepatan dan kemudahan program dalam membantu pengelolaan arsip gambar ukur di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Action Research. Dengan melibatkan karyawan Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten bersama-sama untuk mengetahui kelemahan dan kemudahan program aplikasi basis data gambar ukur dalam membantu
pengelolaan arsip gambar ukur serta mendapatkan metode pengelolaan arsip gambar ukur baru. Program aplikasi basis data gambar ukur dapat dibuat dengan menggunakan gabungan dari aplikasi microsoft access dan visual basic. Program ini memberikan kemudahan dalam penyimpanan dan pencarian arsip gambar ukur yang berupa data raster dan dapat berguna sebagai cadangan arsip gambar ukur. Berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan petugas, pengelolaan arsip GU dengan program aplikasi basis data gambar ukur didapatkan hasil bahwa 99,5% menyatakan lebih cepat dalam mencari arsip GU dengan menggunakan program aplikasi basis data GU dan 0.5% menyatakan kecepatan antara mencari arsip GU tanpa menggunakan program aplikasi atau dengan menggunakan program aplikasi adalah sama.
Kemudian 86,36% menyatakan tidak kesulitan mengoperasikan program aplikasi tersebut, sedangkan 13,64% menyatakan kesulitan mengoperasikannya.
 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI MINAT MASYARAKAT DALAM PENSERTIFIKATAN TANAH DI DESA KEDUNGRANDU KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMASdownloads: 241 | type: pdf | size: 374 kB

Penulis: Ria Yuliani

Skripsi

Jurusan: Perpetaan

Tahun 2007

Intisari
Tanah mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena disamping sebagai sumberdaya juga merupakan faktor produksi yang utama baik untuk pembangunan maupun untuk pemenuhan kebutuhan seharihari. Untuk menghindari munculnya persoalan dalam masyarakat terkait dengan berbagai kepentingan yang berlangsung di atas tanah maka tanah perlu dijaga dan dipelihara keberadaannya. Salah satu upaya dimaksud adalah dengan pendaftaran tanah sesuai Pasal 19 UUPA, yang memberi amanat kepada pemerintah untuk mengadakan kegiatan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum dengan bukti yang berupa sertipikat hak atas tanah. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan pendaftaran tanah secara sporadis belum memberikan hasil yang memuaskan karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah di Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah.

 

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survai dengan maksud untuk menjelaskan hubungan kausal antara variabel yang diduga merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah secara sporadis. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi tentang pelayanan pensertipikatan dan persepsi tentang biaya pensertipikatan merupakan variabel pengaruh, sedangkan variabel terikat adalah minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah. Dari 3.633 orang pemilik tanah yang sudah sertipikat maupun yang belum sertipikat di Desa Kedungrandu diambil sebanyak 100 orang sebagai sampel responden dengan teknik pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple Random Sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan cara angket dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul datanya. Untuk menguji hipotesis tentang distribusi dari ukuran-ukuran variabel penelitian dilakukan uji kai kuadrat, dan hubungan antar variabel diketahui dengan menggunakan
analisa tabulasi silang, kemudian tingkat keeratan hubungan antara variabel pengaruh dengan variabel terpengaruh diukur dengan uji koefisien kontingensi.

 

Hasil penelitian menunjukkan dari uji Kai Kuadrat masing-masing faktor diperoleh nilai X² sebagai berikut tingkat pendidikan (X1) adalah 11,85, tingkat pendapatan (X2) adalah 44,33, persepsi tentang pelayanan pensertipikatan (X3) adalah 65,07 dan persepsi tentang biaya pensertipikatan (X4) adalah 7,84. Nilai X² yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi 0,05 dan dk=2 dari Tabel Distribusi Kai Kuadrat diperoleh angka 5,991 dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi tentang pelayanan dan persepsi tentang biaya pensertipikatan secara signifikan mempengaruhi minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah. Dari analisis tabulasi silang diperoleh hasil bahwa faktor tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi tentang pelayanan pensertipikatan dan persepsi tentang biaya pensertipikatan menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh positif terhadap minat masyarakat dalam pensertipikatan tanah. Dari uji koefisien kontingensi diketahui bahwa besaran nilai faktor tingkat pendidikan adalah 0,325 yang artinya bahwa tingkat keeratan hubungannya adalah rendah, faktor tingkat pendapatan adalah 0,554 yang artinya bahwa tingkat keeratan hubungannya adalah sedang/cukup, faktor persepsi tentang pelayanan pensertipikatan adalah 0,627 yang artinya bahwa tingkat keeratan hubungannya adalah sedang/cukup, faktor persepsi tentang biaya pensertipikatan adalah 0,269 yang artinya bahwa tingkat keeratan hubungannya rendah.

PENGUASAAN TANAH PT KERETA API OLEH MASYARAKAT DI DESA SOREANG KECAMATAN SOREANG KABUPATEN BANDUNGdownloads: 618 | type: pdf | size: 437 kB

Penulis: Agus Tresna

Jurusan: Perpetaan

Tahun 2007

Intisari

Jalur kereta api Bandung-Ciwidey sudah tidak dioperasikan sejak tahun 1979an, sebagai akibatnya maka rel kereta yang ada sudah tidak berfungsi lagi untuk prasarana perkeretaapian. Tanah bekas rel kereta api tersebut yang berada di Desa Soreang, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung pada waktu sekarang telah dikuasai oleh masyarakat dan telah berubah menjadi pemukiman. Kemudian adanya rencana untuk mengaktifkan kembali pengoperasian kereta api Bandung Ciwidey. Keadaan tersebut menunjukan adanya suatu permasalahan dimana PT.Kereta api (Perserto) secara yuridis sebagai pemilik tanah bekas rel kereta api tetapi secara fisik telah dikuasai masyarakat. Selanjutnya bila ada rencana pengaktifan kembali jalur dimaksud, maka akan mengakibatkan benturan kepentingan dengan masyarakat yang menguasainya. Dengan demikian dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana status penguasaan tanah bekas rel tersebut yang dikuasai oleh masyarakat dan bagaimana upaya penyelesaian terhadap kemungkinan terjadi konflik antara masyarakat dengan PT.Kereta Api (Persero) dengan adanya rencana pengaktifan jalur kereta api Bandung-Ciwidey.

Untuk mengetahui jawaban permasalahan di atas dilakukan penelitian dengan metode deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak PT.Kereta Api (Persero), Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung, Kepala Desa Soreang dan beberapa masyarakat yang menguasai tanah bekas rel, juga hasil dari kuesioner. Data sekunder diperoleh dari peraturanperaturan, buku-buku dan hasil penelitian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dari hasil penelitian diketahui beberapa hal sebagai berikut: Pertama, sejak berhentinya jalur kereta api Bandung-Ciwidey (1979an), PT.Kereta Api (Persero) tidak mengelola tanah tersebut sehingga tanahnya diokupasi oleh masyarakat. Kedua, bahwa tanda bukti pemilikan PT.Kereta Api (Persero) terhadap tanah tersebut berupa Grondkaart nomor 24, 25 dan 26. Ketiga, masyarakat yang menguasai tanah tersebut ada yang secara langsung melakukan okupasi serta ada yang memperolehnya dari hasil jual beli dengan masyarakat yang menguasai sebelumnya yaitu para bekas pegawai PJKA atau seakan-akan waris dari orang tuanya. Keempat, masyarakat yang menguasai tanah tersebut ada yang mempunyai perjanjian sewa dengan PT.Kereta Api (Persero) dan ada yang liar. Kelima, ada dua sebab yang dapat menimbulkan konflik atas tanah tersebut yaitu rencana pengaktifan jalur kereta api dan kebijakan PT.Kereta Api (Persero) yang akan memberikan tanahnya bila ada pihak ketiga yang memerlukan dan dianggap menguntungkan untuk mereka. Keenam, bila tanah bekas rel tersebut akan dipergunakan oleh PT.Kereta Api (Persero), kepada masyarakat hanya akan diberikan uang “sekedarnya” yang jumlahnya tidak sama setiap orang sedangkan masyarakat ingin diberikan ganti rugi sesuai dengan nilai bangunan yang mereka miliki. Ketujuh, dalam upaya mengatasi kemungkinan konflik PT.Kereta Api (Persero) akan mengedepankan musyawarah, tetapi bila tidak ada kesepakatan akan dilakukan penggusuran dengan melibatkan instansi yang berwenang.

DAMPAK PELAKSANAAN REDISTRIBUSI TANAH OBYEK LENDREFORM TERHADAP ETOS KERJA PETANI PENERIMA DI DESA WARNASARI KECAMATAN PANGALENGAN KABUPATEN BANDUNGdownloads: 123 | type: pdf | size: 4 MB

Penulis: Yeyet Rachayu

Skripsi

Jurusan: Manajemen Pertanahan

Tahun 2007

Intisari

Pelaksanaan landreform bertujuan untuk memperbaiki keadaan sosial ekonomi rakyat melalui pembagian yang adil atas sumber penghidupan petani yang berupa tanah. Di samping itu melalui landreform diharapkan akan meningkatkan kegairahan kerja para petani penggarap dengan memberikan kepastian hak pemilikan atas tanahnya. Petani yang terdapat di Desa Warnasari Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung sebelum pelaksanaan redistribusi tanah adalah sebagai penggarap tanah negara bekas hak erpacht dan hak eigendom. Dengan statusnya sebagai penggarap tanah negara, memberikan dampak pada rendahnya semangat dan etos kerja dalam mengusahakan tanahnya. Untuk merealisasikan tujuan landreform tersebut maka dilaksanakan program redistribusi tanah. Redistribusi tanah ini pada dasarnya mengadakan suatu pembagian tanah obyek landreform untuk para petani yang memenuhi persyaratan dan
prioritasnya sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 224 tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan etos kerja bagi petani penerima redistribusi dari pelaksanaan redistribusi tanah di Desa Warnasari Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan studi komparatif dan teknik pengumpulan datanya melalui kuesioner, wawancara, studi dokumentasi dan pengamatan. Teknik analisis datanya dengan mempergunakan analisis tabulasi yaitu dengan menggunakan data-data yang diperoleh dari hasil kuesioner, wawancara, studi dokumentasi serta hasil jawaban dari penyebaran kuesioner ke dalam tabel-tabel, kemudian dianalisis dengan deskriptif dilanjutkan dengan cara
komparasi untuk membandingkan etos kerja petani penerima redistribusi sebelum dan sesudah menerima tanah redistribusi obyek landreform. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pelaksanaan redistribusi tanah obyek landreform bekas hak erfacht dan hak eigendom di Desa Warnasari Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung mampu menambah etos kerja bagi petani penerima redistribusi tanah. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan jumlah jam kerja, jumlah modal yang diinvestasikan, intensitas penanaman dan luas penanaman dalam kegiatan usaha tani.Total kenaikan jumlah jam kerja rata-rata dalam kegiatan usaha tani untuk kelompok tanaman teh, labu dan hortikultura sebesar 8,14%. Sedangkan total kenaikan jumlah modal yang diinvestasikan rata-rata untuk kelompok tanaman teh, labu dan hortikultura sebesar 11,25%. Selanjutnya kenaikan rata-rata intensitas penanaman sebesar 18,52% dan kenaikan rata-rata luas penanaman dalam kegiatan usaha tani sebesar 1, 1605 ha atau 12,19%.

1-5 of 34 Next Page >>